Sunday, July 25, 2010

Putus adalah pilihan

Kehadirannya bukan mauku, tapi dialah yang memintaku. Kehadirannya bukan karena harapanku, tapi dialah yang memohon. Dulu aku menistakannya, tapi karena rasa kasihan kini berubah jadi kasih. Aku tidak menduga rasa ini akan menimpaku. Aku mengenalnya jauh sebelum siapa pun mengenalnya. Sejuta harapan
telah kutulis dalam buku permohonanku. Penuh harap agar Allah swt mewujudkannya. Cintaku pun salah satu dari harapan itu. Bisa bertahan dengan Ancha selama dua tahun di atas semua perbedaan dan keegoisan kami suatu keajaiban bagiku. “Ya Allah, aku ragu pada cinta kami. Menjadi aktivis adalah suatu anugerah, tapi rasa raguku kepada kesetiaan tidak ada penawar bagiku. Mudah-mudahan ada keajaiban untuk hubungan kami.” Suatu kebahagian luar biasa mendapat perhatian besar dari teman-teman. Dibalik semua cercaannya padaku mereka masih menyimpang kasih dan peduli kepadaku. Seuntai ucapan selamat menjadi lebih berharga dari apa pun di tengah hubungan cintaku dengan Ancha yang memburuk. Mungkinkah akulah yang terlalu mendramatis dan terlalu menuntut di dalam hubungan kami? Dengan perubahannya yang tidak pernah lagi ada inisiatif untuk menelponku. Hatiku terlalu membatu untuk memahami itu. Alasannya pun cukup masuk akal, aku tidak bertanya seandainya sedari awal hubungan kami memang seperti ini. “Sekarang aku menjabat sekretaris Senat, sebenarnya banyak yang meminta aku agar mencalonkan diri menjadi ketua, tapi aku sadar dirilah dengan statusku sebagai junior. Cewek-cewek mulai mencari perhatianku. Terkadang mereka mengundang kami mengadakan acara kumpul bareng. Prestasiku juga semakin meningkat bahkan banyak teman-temanku telah memanggilku Pak Mantri.” Tanggapan yang seperti apa yang harus kuberikan untuknya. Dengan jabatannya saja menjadi ketua tingkat sudah cukup membuatku cemas. Dia sebagai anak AKPER yang dominan wanita, aku merasa cukup beralasan jika merasakan kecemasan. Apalagi ia sering mengunkapkan reaksi cewek-cewek kepadanya. “ Ada seorang gadis yang pernah mengungkapkan perasaannya padaku. Ia terus menelponku dan terlihat sangat berharap padaku. Saat aku memintanya untuk menjauhiku ia menolak dan mengancam akan bunuh diri.” Dibanding cewek yang ada di sekeliling aku bukan siapa-siapa. Aku bahkan tidak pernah berpikir akan melakukan pengorbanan yang sebesar itu untuknya. Aku hanya bisa berjuang menjadi orang yang paling setia. Walaupun aku sulit untuk mengungkapkan kata cemburu di depannya karena harga diriku, tapi keadaan selalu membuatku cemburu. Aku mulai merasa tidak pantas untuknya. Aku masih Muli yang biasa-biasa saja. Jangakan menjadi anggota senat, aku bahkan gagal menjadi anggota sebuah komunitas matematika di kampusku. Aku masih terlalu takut bermetamorfosis. Aku suka dengan keadaanku dan diriku yang membatasi duniaku karena itulah diriku. Otakku sudah terlalu lelah mencerna hubungan kami. “Lebih cepat akan lebih baik!” Aku belum siap untuk patah hati. Aku berusaha menata hatiku agar menghapusnya step by step. “Aku punya alasan sendiri dan melihat hal lain darimu,” jawabnya saat aku mempertanyakan alasannya untuk melepas wanita yang begitu berharap padanya. Alasannya tidak cukup meyakinkan hatiku untuk terus bertahan. “Pasti someone special adalah orang pertama yang mengucapkan selamat,” goda teman-temanku. “Hubungan kami sedang buruk, kalianlah orang pertama yang mengucapkan selamat padaku.” Tanggapan yang begitu dramatis. Saat hatiku sedang kecewa, aku tak bisa lagi berpikir lebih baik kecuali mencari rasa kasihan. Padahal tak seharusnya aku melibatkan orang yang tidak tahu apa-apa dengan masalahku. Yang ada di dalam otakku, berbagi akan membuat masalahku menjadi lebih baik. Pada kenyataan berbagi membuatku semakin buruk dalam penyesalan yang tak berujung tanpa tahu apa yang harus kusesali. Alunan lagu Rossa ‘Sakit Hatiku’ membuatku melonjat kegirangan. Seperti harapanku, Anca memanggil. “Jujur saja aku tidak ingat kalau hari ini kamu ulang tahun, tapi tadi temanmu menelpon dan mengatakan kamu ulang tahu hari ini dan sangat mengharapkan aku mengucapkan selamat.” Sekarang semua terlihat dengan jelas. Jawaban dari kecemasanku telah terbuka.Inilah balasan dari pengertian yang kuberikan padanya. Aku mengerti jika ia tidak memberiku kabar selama dua bulan karena sekarang ia sedang sibuk. Aku bisa tahan di atas rasa cemas yang selalu datang dan tidak ingin menjadi orang yang posesif dengan segala aturan. Aku hanya tidak menyangka kejujuran itu terlalu menyakitkan. Siapa yang bisa kupersalahkan? Seandainya aku bisa memutar waktu, aku tidak akan membiarkannya masuk di hatiku. Aku tidak akan menjalani sesuatu yang membuatku ragu. Andai saja mataku lebih cepat terbuka, sebelum aku melukisnya dengan indah di hatiku dengan sejuta mimpi. Betapa bodohnya, aku bisa merasa begitu tersanjung dan merasa begitu istimewa. Bodohnya aku berpikir kalau Anca adalah cinta pertama dan terakhirku. Jangankan untuk membuka hati pada yang lain, aku bahkan tidak berani untuk memimpikan laki-laki lain. Aku sangat menghargai kesetian dan berharap aku juga di perlakukan sama. “Aku mohon, kamu jangan marah pada teman-temanmu! Mereka melakukan itu karena mereka sayang sama kamu. Lagian aku benar-benar lupa kalau hari ini kamu ulang tahun. Aku memberi tahumu kalau teman-temanmu memberi tahuku hanya agar kamu tahu betapa berungtungnya kamu punya teman seperti mereka.” Hatiku semakin perih mendengarnya. Sebegitu berbedannya pikiran kita. Tidak bisakah ia membiarkan aku menenangkan hatiku? Harga diriku benar-benar telah hancur dengan satu kali terpaan. Ia mengucapkan selamat hanya karena teman-temanku. Tubuhku begitu lemah hingga perjalanku pulang ke kos terasa sangat berat. Mungkin aku terlalu banyak mengeluarkan energi saat bertengkar dengan Ancha di telepon. “Sudalah cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi.” Aku merasa sedikit lebih kuat dan sedikit lebih tenang. Memang seharusnya aku tidak semarah dan sekecewa itu. Akhir-akhir ini aku mulai merasakan perubahannya, ia bukan lagi Ancha yang dulu. Buat apa memaksakan diri pada hubungan jika tak ada lagi kecocokan. Semakin aku coba untuk tegar dan bangkit aku semakin terpuruk. Aku tak mengenal lagi diriku yang dulu sangat bangga dengan kehebatanku mengontrol perasaanku kini menangis untuk seorang laki-laki. Aku menangisi seorang laki-laki yang mungkin saja melompat kegirangan atas keberhasilannya menyakitiku. Rasanya sangat sakit ketika menyadari betapa hinanya menangis untuk hal yang sama sekali tak ada ungtungnya. Sebulan mengajariku banyak hal. Usahanya meminta maaf kembali meluluhkan hatiku. Bahkan semakin menambah kesabaranku dan pengertianku padanya. Tetap saja rasa curiga dan ketakutan tak bisa lepas dariku. Aku selalu merasa ada yang salah dengan hubungan kami. Kurangnya komunikasi sejak ia ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kampus semakin memebuatku mempertanyakan hubungan kami. Aku merasa ia semakin acuh kepadaku. Aku tak merasakan lagi adanya hubungan istimewa antara kami. Kami hanya seperti dua orang teman lama yang berhubungan baik. Hanya berkomunikasi sekedarnya. Aku mulai merasa posesif dan ingin di perhatikan. Walau tak pernah aku ungkapkan padanya. Sementara ia semakin menikmati dunianya dengan teman-temannya atau mungkin kekasihnya yang lain. Tidak ada lagi pilihan lain bagiku kecuali menanyakan hubungan kami. aku telah siap dengan semua resiko termasuk putus. Lebih baik putus sekarang dari pada putus pada saat aku benar-benar tidak bisa lagi melepasanya. Walaupun air mataku selalu mengalir saat membayangkan perjuangan untuk menerimanya kini malah akan kehilangan dirinya. Padahal dia terlanjur menempati ruang di hatiku. Aku menangis karena belum menemukan cara yang jitu untuk melupakannnya ketika ia tak memilihku lagi. Kukumpulakn segenap kekeuatanku, ketabahanku dan keberanianku untuk menelponnya. “Iya aku lagi di lapangan, maaf ya nanti kau telepon lagi.” Sambutan yang sangat mengecewakan untukku setelah lebih sebulan tak menghubungiku pasca ia meminta maaf di hari ulang tahunku. Namun aku tidak melihatnya sebagai sebuah kesedihan yang patut kuratapi. Setidaknya aku semakin tahu posisiku sehingga tak perlu merasa bersalah saat mengucapkan kata putus. Walaupun rasanya sangat sedih saat aku gagal mempertahankan hubungan kami, tapi aku telah mengusahakan yang terbaik semampuku.

3 comments:

oPaYcueK said...

wah, perjuangan cinta yang berat ya brader... salut, tapi bacanya agak ribet ya, gak ada paragraph nya

azayaka-shiro said...

hehehehe... gitu yah... sip ntar gw perbaiki...

Unknown said...

gitu yah hemmmmm klo putus itu pilihan, pilih ga putus deh hehehehe